Heboh Gong Legendaris Batal Tampil di HUT Singaraja, Ada Band Buka Suara

Bali – Ada Band buka suara terkait polemik seniman gong legendaris yang batal tampil di acara HUT ke-429 Kota Singaraja, Buleleng, Bali. Ada Band menampik telah menyela waktu penampilan kesenian tradisional itu.
“Om Swastiastu teman-teman di Singaraja, Buleleng, Bali. Ada Band tidak pernah meminta untuk menyela tampil lebih dahulu dari teman-teman pengisi acara yang lain di panggung HUT Singaraja,” kata vokalis Ada Band, Indra Perdana Sinaga, melalui Instagram Storiesnya, dilihat detikBali, Selasa (2/4/2024). detikBali sudah meminta izin untuk mengutip unggahan itu.

Adapun acara HUT Kota Singaraja itu digelar di Lapangan Bhuana Patra pada Sabtu (30/3/2024). Ada dua seniman gong legendaris yang dijadwalkan tampil.

Namun, menurut para seniman, penampilan mereka dibatalkan. Salah satunya karena Ada Band akan tampil. Mereka gagal pentas dan memilih pulang.

Menurut Naga -sapaan Indra-, pada malam itu penampilan Ada Band juga molor dari jadwal. Mereka yang seharusnya manggung pada pukul 21.10 Wita, baru bisa tampil pada pukul 23.00 Wita.
“Tak ada sedikitpun dari pihak Ada Band tidak menghargai seniman budaya Singaraja seperti yang dituduhkan beberapa netizen kepada kami. Justru sebagai sesama seniman, kami sangat mendukung kelestarian budaya tradisional sebagai identitas bangsa Indonesia yang beraneka ragam,” tegas Naga.

“Mohon maaf bila ada teman-teman di Singaraja yang kurang berkenan, semoga seniman dan budaya tradisional Singaraja semakin lestari,” imbuhnya.

Sebelumnya, video seniman gong tradisional di sana batal tampil viral di media sosial. Beberapa pihak mengecam pembatalan itu.

Ada dua sekaa gong legendaris yang dijadwalkan tampil pada saat malam penutupan HUT Kota Singaraja yang digelar di Lapangan Bhuana Patra Singaraja, Sabtu (30/3/2024) itu, yakni Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan dan Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Desa Jagaraga.

Namun mereka gagal pentas dan memilih pulang karena merasa kecewa dengan panitia. Sebab saat hendak mebarung penampilan kedua sekaa gong legendaris itu disela dengan penampilan band.

Pembina Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan Kadek Pasca Wirsuta mengatakan mereka merasa kecewa karena perubahan jadwal yang terus-menerus hingga sesaat akan pentas. Perubahan jadwal itu membuat mereka bingung dan kecewa. Hingga akhirnya mereka memilih pulang daripada menunggu jadwal pentas.

“Saya bawa taksu ke sini agar tidak diremehkan. Ini tidak bisa dipermainkan. Untuk besok-besok supaya tidak seperti ini,” katanya.

Perubahan jadwal itu seolah-olah tidak memprioritaskan kesenian Buleleng dan mengesampingkan para seniman tradisi. Ia berharap agar nantinya pertunjukan tradisional diberikan ruang khusus tidak digabung dengan pertunjukan hiburan seperti musik band atau lainnya.

“Berikanlah ruang ke pada seniman kita di Buleleng, bukan mencampuradukkan dengan band atau lainnya. Kalau mebarung spesial mebarung,” tandasnya.

Penjabat (Pj) Bupati Buleleng I Ketut Lihadnyana menyampaikan permintaan maaf kepada seniman di Buleleng khususnya seniman gong legendaris atas kejadian itu. Kejadian itu akan menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng ke depan.

“Kami minta maaf atas kejadian itu. Saya pribadi juga minta maaf. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Saya tahu semuanya sudah bekerja keras. Ini jadi satu dasar untuk bahan evaluasi ke depan,” katanya.

“Saya sudah mendengarkan juga masukan-masukan dari seniman tradisi itu, sehingga ke depan jika ada acara seperti ini dibuatkan ruang khusus tapi dengan catatan semuannya dari Buleleng,” imbuhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *