Hanya Saifullah Yusuf Yang Selevel Muhaimin, Sholeh Basyari CSIIS : Nyaris Gaib Bak Iklan Jadul

 

Beredar video di tik tok dan Instagram, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyerang ketum PKB Muhaimin Iskandar (cak Imin). Video itu seperti statemen-statemen Gus Ipul sebelumnya, berisi down-grade peran cak Imin secara analitik, meskipun fakta perolehan suara PKB pada pemilu legislatif bulan lalu, ter-upgrade signifikan.

Video juga statement Gus Ipul yang konsisten, terukur, terstruktur meski kurang massive, tentang “operasi ganti nahkoda” dan pengembalian PKB ke pangkuan PBNU, menggambarkan sejumlah hal ini.

Pertama, dari nama-nama potensial yang telah beredar untuk menggantikan Muhaimin sebagai ketum PKB, hanya Gus Ipul yang bisa disebut serius dan selevel dengan cak Imin. Sementara nama-nama seperti Abdul Kadir Karding, Marwan Jafar bahkan Yaqut Cholil Qoumas adalah kader-kader yang diorbitkan cak Imin. Sulit berharap dari Karding dan Marwan untuk benar-benar mengkonsolidasi kekuatan untuk mendepak cak Imin dari Raden Saleh.

Gus Ipul punya sejarah dan pengalaman “merebut” PKB di saat transisi kepemimpinan nasional. Jejak Gus Ipul terkait hal ini terlacak pada Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB J/di Jogja Januari 2002.

Tampaknya MLB disamping untuk merebut PKB dari kelompok Mathori Abdul Jalil sekaligus juga untuk mendapatkan ticket kursi menteri pada pemerintahan Megawati.

Meski setelah kursi menteri dan PKB berhasil direbut dari kubu Mathori, Gus Ipul tampak terlena. Tahun 2005, Muhaimin mampu meyakinkan Gus Dur dan mayoritas kyai pendukung PKB, untuk menyelenggarakan muktamar PKB di Semarang.

Muktamar ini didahului oleh pemecatan secara bersamaan ketum dan sekjen PKB: Alwi Shihab dan Saifullah Yusuf. Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia, hanya PKB satu-satunya partai yang ketum dan sekjen-nya dipecat secara bersamaan.

Kedua, kepemimpinan solid cak Imin di PKB sejak Muktamar Semarang (2005) hingga sekarang (2024), dengan semua dinamika yang menyelubunginya, melahirkan keutuhan partai sekaligus mematikan tumbuhnya bibit kepemimpinan internal.

Cak Imin seperti umumnya pemimpin dg karakter otoriter lainnya: tidak sudi tokoh lain besar di luar kontrol dirinya.

19 tahun cak Imin menahkodai PKB, tidak satupun kader dan tokoh dengan spec dan level nasional, lahir dari tangannya.

Alih-alih melahirkan kader level nasional yang dipersiapkan sebagai sirkulasi elit partai, cak Imin tidak segan menendang kader-kader utama keluar dari lingkarannya, bukan sebab berbeda prinsip, tetapi lebih karena kecurigaan-kecurigaan.

Ketiga, sejatinya upaya untuk mendongkel cak Imin dari Raden Saleh, sangat berliku dan terjal. DPP, DPW dan DPC PKB , solid mengarah ke kebulatan tekad mendukung cak Imin kembali’.

Tetapi faksi-faksi yang menghendaki regenerasi di PKB, memiliki modal besar: titah istana (,lama dan baru).

Belajar dari operasi di PPP dengan target Suharso Monoarfa, titah istana terkait PKB, bersembus sangat sayup, sunyi dan seperti iklan mobil panther tahun 90-sn “nyaris tak terdengar”.

Titah itu terdeteks setidaknya dari dua hal: reshuffle orang terdekat cak Imin atau turunnya logistik untuk kepentingan ini. Selagi dua hal ini tidak nyata, titah istana terkait operasi ganti nahkoda PKB, jangan-jangan hanya ‘ngabuburit jelang berbuka”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *